Showing posts with label patin siam. Show all posts
Showing posts with label patin siam. Show all posts

Thursday, October 2, 2008

Jalan Panjang Siperak, Siperaup DOLLAR

Umumnya, produksi ikan patin di Indonesia, baik dalam bentuk benih maupun ukuran konsumsi, didominasi jenis patin siam (Pangasius hyphopthalmus sinonim P. sutchi) atau disebut lele bangkok. Jika ada tambahan, tak lebih dari hasil tangkapan di sungai-sungai besar tertentu di Tanah Air. Patin siam adalah hasil introduksi dari Thailand pada tahun 1972. Jenis patin itu sangat populer dan mudah memasyarakat. Pasalnya, gampang dikembangbiakkan dan mampu menghasilkan telur atau benih dalam jumlah relatif banyak setiap kali dipijahkan.

Sayangnya, patin siam kurang laku di pasar ekspor. Lantaran dagingnya berwarna kekuningan atau kemerahan. Warna daging seperti itu kurang disukai negara importir ikan patin, seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa. Para importir lebih menyukai ikan yang berdaging putih atau dari jenis Pangasius borourti. Akibatnya, pasar ekspor diisi pembudidaya patin asal Vietnam dan Taiwan, karena memiliki komoditas patin berdaging putih.


Namun pembudidaya patin di Indonesia tidak kehilangan akal. Hasil penelitian sementara dari Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi dan pengalaman sejumlah pembudidaya patin di dalam karamba di Jambi dan Palembang menunjukkan, warna daging patin siam bisa berubah menjadi putih, asalkan dipelihara di sungai. Namun, tidak semua pembudidaya melakukan kegiatan budi daya di sungai. Ujung-ujungnya, pembudidaya di Indonesia tetap tidak mampu memenuhi kuota ekspor patin berdaging putih, apalagi menjaga kontinuitas pengiriman.
Melihat kondisi yang memprihatinkan tersebut, para peneliti perikanan di Indonesia berusaha mencari jenis ikan patin lain yang dapat memenuhi kriteria kebutuhan ekspor. Setelah melalui serangkaian penelitian yang dilakukan selama beberapa tahun, para peneliti perikanan pun berhasil melakukan domestikasi dan melakukan pemijahan buatan. Mereka akhirnya berhasil menemukan 13 jenis patin lokal Indonesia, salah satunya adalah "patin jambal" atau Pangasius djambal yang paling mendekati kriteria kebutuhan pasar ekspor.
Ikan patin jambal diperoleh melalui proses penangkapan di sungai. Umumnya, patin jenis ini sangat diminati masyarakat Sumatera dan Kalimantan. Meski secara geografis, penyebarannya cukup luas dan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Penyebarannya yang luas juga menunjukkan bahwa jenis ini cocok dipelihara di banyak tempat dan mudah dikembangbiakkan. Keunggulan dari sisi fisik adalah dagingnya berwarna putih, bobot badannya bisa mencapai lebih dari 20 kg, dan panjang hampir 1 m. Namun, patin jenis ini hanya mampu menghasilkan telur dalam jumlah relatif sedikit. Kepopuleran patin jambal membuat Departemen Kelautan dan Perikanan resmi melepasnya ke masyarakat untuk dibudidayakan pada tahun 2000.

Menyusul sukses pelepasan ikan patin jambal ke masyarakat, pada 7 Agustus 2006, Departemen Kelautan dan Perikanan kembali melepas ke masyarakat jenis patin baru yang diberi nama "Patin Pasupati" atau Patin Super Harapan Pertiwi. Patin pasupati merupakan hasil persilangan atau hibrida antara patin siam betina dan patin jambal jantan. Keunggulan dari patin ini adalah memiliki daging yang berwarna putih, kadar lemak yang relatif rendah, laju pertumbuhan badan yang relatif cepat, dan jumlah telur yang relatif banyak. Daging yang berwarna putih dan bobot tubuh yang besar diturunkan dari patin jambal, sementara jumlah telur yang relatif banyak diturunkan dari patin siam.
Dalam perkembangannya, masyarakat menyebut patin jambal dan patin pasupati sebagai patin super. Sebutan tersebut diberikan dengan mempertimbangkan keunggulan-keunggulan yang dimiliki kedua jenis patin itu. Keduanya memang memiliki banyak kemiripan, baik dalam pemeliharaan, pemijahan, maupun pembesaran.

Simak Selanjutnya : Prospek Usaha Ikan Patin, Menjanjikan
Sumber : Budidaya Patin Super. Khairuman, Sp

Tuesday, September 30, 2008

Sepatah Kata

Ikan patin merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang populer di kalangan penggemar menu masakan ikan air tawar. Pasalnya, ikan ini memiliki cita rasa yang enak. Di sisi lain, bagi pembudidaya, kelebihan ikan ini mampu bertahan hidup di perairan yang jelek dan teknologi budidayanya gampang dikuasai. Karena itu, ikan ini menjadi menarik untuk dibudidayakan secara komersial.
Perkembangan budidaya yang cukup pesat menuntut pasokan benih yang semakin meningkat pula. Apalagi, peluang ekspor ke Amerika dan Eropa makin terbuka, selain pasar utama di dalam negeri yang permintaannya terus meningkat.
Saat ini, selain ikan patin siam (Pangasius hyphopthalmus sinonim P. sutchi) yang dagingnya berwarna agak merah, terdapat jenis ikan patin baru yang memiliki keunggulan tertentu, yakni patin jambal (Pangasius djambal) dan patin PASUPATI atau Patin Super Harapan Pertiwi.
Ikan patin jambal merupakan patin asal sungai dan dilepas ke masyarakat pada tahun 2000. Sebelumnya, patin jambal sudah mengalami proses domestikasi di Sukamandi dan Jambi. Sementara itu, patin pasupati merupakan patin hibrid atau hasil persilangan patin jambal dengan patin siam. Patin pasupati telah dilepas ke masyarakat pada tahun 2006.
Kedua ikan patin super tersebut merupakan jenis patin lokal asli Indonesia dan memiliki warna daging putih. Sudah bukan rahasia, jika ikan patin dengan daging berwarna putih adalah jenis patin yang diminati pasar ekspor seperti Amerika dan Eropa. Sehingga, kedua patin lokal ini merupakan kandidat favorit untuk menyuplai kebutuhan pasar ekspor. Selain itu, kedua ikan patin itu memiliki ukuran yang relatif besar, sehingga disebut ikan patin super.
Pada Blog ini dibahas berbagai aspek terkait usaha pembenihan dan pembudidayaannya. Teknik pembudidayaan, baik pembenihan maupun pembesaran, kedua jenis patin ini relatif sama. Prinsipnya, sebagai patin jenis baru pemahaman sifat biologinya perlu dikuasai terlebih dahulu.
Kehadiran Blog ini diharapkan bisa menjadi bahan untuk membantu pembudidaya atau calon pembudidaya yang berminat mengembangkan ikan patin. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu memberikan informasi, literatur, dan data bagi tersusunnya Blog ini. Sadar akan segala kekurangan, penulis dengan tangan terbuka menerima kritikan dan saran dari pembaca, sehingga Blog ini menjadi lebih sempurna pada masa yang akan datang. Semoga bermanfaat.

Bandung, Oktober 2008
Simak Selanjutnya : Jalan Panjang Siperak, Siperaup DOLLAR
Sumber : Budidaya Patin Super. Khairuman, Sp